Awal dari sejarah Waruga mencatat bahwa mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang
meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis
janur). Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini
berubah dengan mengganti wadah rongga pohon
kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah. Baru
sekitar abad IX Suku Minahasa mulai menggunakan Waruga.
Waruga adalah makam/kuburan leluhur orang Minahasa (Suku Minahasa) yang terbuat
dari batu (Batuan Beku “igneous rock”/Batu
Demato) dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas
